wahdahsulsel.or.id - Kebaikan dan keburukan merupakan dua perilaku yang sangat bertentangan satu sama lain. Kadang suatu kehidupan ada yang dominan kebaikannya ada juga yang lebih dominan keburukannya.
Begitulah manusia, dia tempatnya banyak salah. Jangan biarkan diri kita berlarut-larut dalam kesalahan. Jangan biarkan Allah murka dengan kelakukan kita yang tidak disukai-Nya.
Nabi Muhammad pernah ingatkan, bahwa kita sebagai manusia memang tempatnya banyak salah. Bukan sedikit salahnya. Tapi, sedikit-sedikit berbuat lagi kesalahan. Kendati demikian, Nabi Muhammad mengajarkan untuk segera bangkit, istighfar dan memohon ampun kepada-Nya.
Dari Sahabat Anas bin Malik , Rasulullah bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
"Setiap anak Adam adalah selalu berbuat salah. Dan sebaik-sebaik mereka yang telah berbuat salah tadi adalah mereka yang segera bertaubat." (HR.At-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir).
Bertaubat dengan mengucapkan "astaghfirullah al 'adzim wa atuubu ilaihi". Bertaubat dengan azam yang kuat untuk tidak bermaksiat. Bertaubat dengan mengubah amalan serta perilaku dengan ibadah-ibadah dan amalan sholeh lainnya.
Keunggulan beristighfar yang disertai dengan iman dan amal sholeh adalah semua kesalahan yang pernah kita lakukan akan diganti dengan kebaikan oleh Allah.
Allah berfirman:
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)
Jika kita bermaksiat, maka Allah akan murka kepada kita. Jika kita beramal sholeh dan taat kepada-Nya, niscaya Allah akan mencintai dan memberikan solusi atas permasalahan yang kita hadapi.
Ganjaran dan Buah Dari Istighfar
Istighfar adalah solusi hidup yang tidak perlu harus jauh-jauh mencarinya. Istighfar adalah solusi dari semua problem dan masalah yang kita hadapi, bahkan salah satu sumber kebahagiaan yang kita idamkan.
Mari kita mengkaji kisah al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang didatangi oleh empat orang dengan masalah yang berbeda-beda dan meminta petunjuk dan solusi kepadanya. (Riwayat ini disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari, 11: 98)
Orang pertama datang, mengadukan paceklik di daerahnya. Solusi yang diberikan adalah agar dia istighfar, memohon ampun kepada Allah. Orang kedua datang dengan masalah kemiskinan yang dihadapinya. Solusi yang ditawarkan pun masih sama yaitu istighfar, meminta ampun kepada Allah. Dan datang lagi orang berikutnya yang mengadu karena lahan perkebunannya kering. Sang Imam yang sholeh ini masih memberikan solusi yang sama yaitu istighfar. Dan datang orang terakhir, mengadukan dirinya dan istrinya yang belum dikaruniai anak. Dan lagi-lagi, solusi sederhana yang sebenarnya semua orang memilikinya yaitu dengan beristighfar.
Setelah memberikan solusi para penanya tadi, Al-Hasan Al-Bashri pun membaca (Surat Nuh: 10-12).
Allah berfirman, yang artinya:
"Maka aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." (Qs. Nuh: 10-12)
Dari kisah diatas memberikan pelajaran kepada kita bahwa yang ingin diberikan keturunan, maka perbanyak istighfar adalah solusinya. Yang ekonominya bermasalah, maka istighfar adalah obat penenang jiwanya.
Nabi Banyak Beristighfar, Lalu Bagaimana dengan Kita?
Rasulullah bersabda, yang artinya:
"Demi Allah. Sungguh aku selalu ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali." (HR. Bukhari) di riwayat yang lain "dalam sehari sebanyak 100 kali" (HR. Muslim)
Kita tahu bersama, bahwa tidak ada manusia yang dahulu dan akan datang yang diampuni semua dosanya oleh Allah selain Rasulullah. Lalu kita, sebagai hamba yang sering luput. Masih enggankah kita untuk memperbanyak istighfar?
Astaghfirullah al azhim wa atuubu ilayhi...
Dari Sahabat Nabi Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, dari Nabi, beliau bersabda, "Penghulu istighfar adalah apabila engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya:
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Bukhari, no. 6306)
Kenapa kita harus menghafal lafadz istighfar ini?
Kenapa kita harus menghafal lafadz istighfar ini dan hendaknya menjadi bacaan rutin kita setiap harinya. Berikut faedah ketika mem-bacanya sebagaimana yang Nabi sabdakan dari lanjutan hadits di atas, yang artinya:
"Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga."
Mari kita selesaikan banyaknya persoalan pribadi kita masing-masing dengan memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah.
Ketika penduduk suatu negeri beriman, banyak beramal shaleh dan tidak bermaksiat. Maka, niscaya Allah akan bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi.
Allah berfirman, yang artinya:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 96).

Radio Wahdah