wahdahsulsel.or.id - Pernahkah kita sejenak merenungkan hari-hari yang terlewati? Betapa banyak waktu dihabiskan dengan HP? Berapa kali kita membuka medsos? Seberapa sering kita membaca story, status, feed dan chat?
Namun berapa kali kita membuka Al-Qur'an? Setiap hari, sepekan sekali atau sebulan sekali? Atau jangan-jangan terakhir kali dibuka saat Ramadhan lalu. Jawabannya seringkali membuat kita malu sendiri.
Kita buka HP saat bangun tidur. Buka HP saat menunggu antrian. Buka HP saat sedang senggang. Bahkan saat di atas sajadah pun, tangan masih mencari HP. Gelisah bila tak segera membaca pesan. Hingga doa pun tak lagi dipanjatkan.
Kendati demikian, kita beralasan, "Saya sibuk, tidak sempat baca Qur'an." Padahal screen time HP kita 7 jam lebih sehari. Sedangkan Al-Qur'an hanya butuh 30 menit untuk satu juz. Sejatinya, ini bukan soal sempat, tetapi soal niat.
Allah telah mengungkap alasan hal ini dalam firman-Nya yang sangat halus:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia." [QS. Al-A'la: 16]
Bukan Allah tidak memberi waktu. Tapi kitalah yang kurang nawaitu. Kita luangkan waktu terbaik untuk dunia dan segala kesibukan. Namun hanya sisa waktu saat kondisi lelah untuk Al-Qur'an.
Ini bukan masalah manajemen waktu, ini masalah manajemen hati. Kita diberi waktu 24 jam sehari. Namun sebagian besarnya habis tak disadari. Dan itu berulang setiap hari. Hingga di umur kita sekarang ini. Mau sampai kapan ini terus terjadi?
Waktu akan selalu ada untuk apa yang benar-benar kita cintai. Lihatlah bukti cinta itu. Seseorang yang jatuh cinta, akan selalu menyempatkan perhatiannya,
sesibuk apapun dia. Membaca pesannya, menanyakan kabarnya, merindukan kehadirannya.
Begitu pula hati yang cinta Qur'an. Ia akan mencari celah, mencuri-curu waktu, menyempatkan diri bahkan di tengah kesibukan. Di bus, di sela istirahat kerja, sambil menunggu hujan reda.
Sesuatu yang didorong oleh keinginan kuat dari hati pasti akan diusahakan. Tak ada kata tidak sempat bagi orang yang punya niat kuat. Pertanyaannya, seberapa besar cinta kita pada Al Qur'an?
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
"Jagalah Al-Qur'an, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Al Qur'an lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya." [HR. Bukhari No. 5033 dan Muslim No. 791]
Rasulullah seolah membisikkan, Qur'an itu butuh diikat dengan niat, dijaga dengan komitmen. Jika niatnya kendor, ia akan pergi. Jika tak diupayakan maka ia tak akan datang. Sebaliknya HP tidak akan pergi karena ia terikat kuat di hati. Layarnya berkelip, nadanya berdering, kuotanya penuh dan charger mengisi setiap saat.
Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu pernah mengucapkan kalimat yang menampar kita semua:
لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُنَا مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامِ رَبِّنَا
"Kalau hati kita suci, maka kita tidak akan pernah kenyang dari firman Rabb kita."[Diriwayatkan dalam Fadhail As Shahabat no. 775 Karya Imam Ahmad]
Rasulullah dan para Khalifah adalah contohnya. Mereka mengurusi persoalan umat, sibuk mengurus negara. Bahkan mereka masih sempat memimpin pasukan di barisan terdepan, tetapi hatinya masih rindu Qur'an.
Lalu kita yang bukan siapa-siapa. Bukan kepala negara, bukan pemimpin pasukan perang, punya waktu cukup scroll medsos, mengaku tak sempat?
Seringkali kita menunggu waktu luang untuk membaca Qur'an. Menunggu waktu yang pas saat luang. Padahal waktu luang itu tak pernah ada. Sebaliknya, dengan mencari-cari kesempatan membaca Al Qur'an, maka Allah akan luangkan hidup kita.
Hari ini, HP menghiasi hawa nafsu kita. Ia selalu memanggil, selalu berbunyi. Jika hati tidak kita paksa untuk memilih Qur'an, maka HP akan selalu jadi perhatian.
Padahal Allah sangat sayang kepada kita. Pintu rahmat tidak pernah dikunci. Al Qur'an selalu ada untuk kita. Ia tidak butuh sinyal, tidak butuh kuota. Ia hanya butuh niat.
Maka mulai hari ini, ubah doanya. Jangan berkata, "Ya Allah, beri aku waktu untuk baca Qur'an." Tapi katakan, " Ya Allah, beri aku cinta untuk Al-Qur'an." maka Allah akan beri engkau waktu.
Karena sejatinya, kita selalu sempat untuk apa yang kita niatkan. Kita akan punya cukup waktu untuk apa yang kita cintai.
Mari letakkan HP, dan ambil kembali mushaf yang berdebu itu di dalam lemari. Mungkin ia sudah lama merindukan kita.
Penulis: Aba Azzam

Radio Wahdah